Ishaan adalah anak SD kelas 3 yang pernah tidak naik kelas. Di sekolah, Ishaan dikenal guru-guru sebagai anak yang nakal dan bodoh. Alasannya adalah, karena dia tidak bisa membaca dan menulis. Setiap huruf yang dilihat Ishaan menari-nari di otaknya. Nilainya yang jelek dan sering dimarahi guru membuat Ishaan selalu ditertawai teman sekolahnya.
Walaupun begitu, Ishaan tetap ceria, itu karena dia melihat dunia dengan imajinasinya sendiri. Dia suka memungut barang yang orang anggap sampah. Dia juga suka melukis akan dunia yang dia imajinasikan.
Namun, orang tuanya tidak mengetahui kelebihannya itu. Orang tuanya sangat mengharapkan Ishaan untuk bisa berprestasi lebih baik lagi. Apalagi kakaknya Yohan adalah murid teladan yang selalu berprestasi.
Sang ayah adalah sosok yang sangat keras dan tidak terlalu memperhatikannya. Ibu sangat menyayangi Ishaan, namun ia selalu kesulitan mengajari Ishaan. Orang tua mereka mengira Ishaan adalah anak yang bodoh, pemalas, dan juga nakal. Suatu hari, karena Ishaan ketahuan bolos sekolah. Gurunya juga melaporkan nilai pelajarannya yang buruk ke orang tuanya.
Orang tuanya akhirnya memutuskan untuk memindahkannya ke sekolah berasrama yang ketat dan disiplin.Dengan sangat sedih dan terpukul, Ishaan dikirim orang tuanya ke sekolah berasrama. Ishaan merasa orang tuanya tidak menginginkannya. Ditambah lagi di sekolahnya yang baru, nilainya tetap buruk dan guru-gurunya juga meremehkan Ishaan. Ujung-ujungnya Ishaan mengalami depresi dan tidak melukis lagi.
Ishaan menjadi pemurung dan tidak suka berbicara lagi. Cat warna yang dihadiahkan kakaknya tidak pernah disentuhnya. Tidak ada guru yang menyadari keanehan Ishaan. Mereka hanya menganggap Ishaan idiot dan tidak bisa diajar.
Sampai suatu kali, ada seorang guru baru yang mengajar kesenian bernama Ram Shankar Nikumbh. Guru Ram ini melihat kemurungan Ishaan lalu merasa ada yang tidak beres. Ia lalu mengecek setiap tugas atau hasil tulisan di semua pelajaran dan menyadari masalah Ishaan yang sebenarnya.
Ram lalu mengunjungi rumah Ishaan dan berbicara tentang keadaan Ishaan kepada orang tua Ishaan. Ram melihat hasil lukisan Ishaan dulu dan merasa sangat takjub. Ia mengatakan, Ishaan bukanlah bodoh. Ia sangat cerdas, tapi karena ia mengalami disleksia (gangguan perkembangan baca tulis yang terjadi pada anak 7-8 tahun), Ishaan mengalami kesulitan dalam belajar
Ram lalu memperlihatkan pola kesalahan Ishaan yang selalu sama. Dia tidak bisa membedakan d dan b, s dan r ditulis terbalik, h dan t terbalik, dan kesalahannya selalu terjadi berulang kali. Gejala disleksia yang lain adalah kesulitan mengikuti perintah, lemah dalam refleks, sulit memasang kancing baju atau mengikat tali sepatu sendiri. Saat itulah, orang tuanya akhirnya menyadari bahwa mereka telah salah mengira Ishaan itu bodoh. Namun tetap saja, Ishaan tidak bisa begini terus. Di dunia orang dewasa, mereka hanya melihat kemampuan dari nilai dan hasil.
Ram kemudian membantu membuat kepercayaan diri Ishaan kembali. Dengan sangat sabar, Ram mengajari Ishaan mengenali tulisan. Ram mengajari Ishaan menghitung dengan cara melompat di tangga. Menulis di atas pasir, menulis dengan cara melukis, membuat huruf dengan tanah liat.
Alhasil, Ishaan mulai bisa membaca dan menulis, dan nilai pelajarannya meningkat pesat. Ishaan sudah bisa mengikat tali sepatu sendiri, dan juga bisa mengancingi bajunya sendiri.
Ram kemudian menyelenggarakan lomba melukis guru dan murid. Semua murid dan guru boleh mengikutinya. Ishaan akhirnya juga hadir, dan lukisannya meraih juara pertama.
Saat sedang melukis, ternyata Ram juga melukis, dan objek yang dilukisnya adalah wajah Ishaan yang sedang tertawa.
Ishaan kemudian mendapatkan penghargaan, dan lukisannya dijadikan sampul buku tahunan di setiap murid sekolah. Kepercayaan dirinya kembali, dan orang tuanya merasa sangat berterima kasih kepada Ram.
Setiap anak mempunyai kelebihan dan kemampuan tersendiri. Mereka memiliki mimpi mereka. Tapi orang tua malah menekan mereka, memaksa anak-anak menjadi apa yang mereka mau.
Orang tua hanya ingin memanjangkan setiap jari-jari anaknya, tidak peduli apakah jarinya akan putus atau tidak. Apakah cara ini cara yang bagus?
Memang ada anak yang pintar, yang nilai akademisnya selalu bagus.
Namun, ada juga anak yang memang tidak ahli dalam suatu bidang, yang mau usaha bagaimanapun tetap saja tidak bagus, tapi dia punya kelebihan yang luar biasa di hal yang lain.
Apa kita sebagai guru, orang tua, ataupun pihak sekolah, tidak bisa menggunakan cara lain untuk mengajari mereka? Mengapa kita tidak bisa mengajari mereka sesuai dengan keahlian mereka?
https://www.pastiseru.com/detail/pcb5m245lL
Tidak ada komentar:
Posting Komentar